MESIN PENCARI

PENDIDIKAN PUSAKA INDONESIA, Anastasia Melati

Sebuah memorandum Of Understanding (MOU) ditandatangani pada Mei 2008 oleh Ketua Badan Pelaksana Pusaka Indonesia/BPPI (Indonesia Heritage Trust) Setyanto P. Santoso dan Direktur Erfgoed Nederland/EN (The Netherlands Institute For Heritage/Institut Pusaka Belanda) Richard Hermans di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Salah satu butir utama dalam memo kesepahaman tersebut adalah sebuah proyek bernama Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia selama 2 tahun. Proyek ini bertujuan untuk membuat anak-anak Indonesia menyadari berbagai macam pusaka yang mengelilingi mereka, sehingga mereka dapat memiliki apresiasi yang lebih baik. Sehingga mereka dapat memiliki apresiasi yang lebih baik. Sehingga hasilnya, diharapkan bahwa generiasi berikutnya akan memiliki kesadaran yang lebih baik dalam memahami dan melestarikan pusaka bagi generasi mendatang sebagai tanggungjawab bersama. Kesadaran masyarakat merupakan faktor kunci dalam pelestarian pusaka masa depan. Tetapi yang lebih penting, proyek ini ingin menunjukan bahwa pusaka ini menyenangkan untuk dipelajari dan dapat digunakan dengan berbagai cara dalam pendidikan secara umum dan Sekolah Dasar khususnya.

Hubungan antara pelajaran sekolah dan kurikulum sekolah merupakan salah satu pengalaman yang dikumpulkan melalui pendidikan pusaka yang telah diimplementasikan di belanda sejak dekade terakhir. Erfgoed Nederland Merupakan salah satu organisasi yang memiliki pengalaman ini karena terlibat dalam beberapa proyak pendidikan pusaka.

BPPI dan EN kemudian bekerjasama denga Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pendidikan Nasional; Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada; dan kantor UNESCO Jakarta melaksanakan proyek pendidikan pusaka ini. Yogyakarta telah dipilih sebagai lokasi awal pelaksanaan proyek karena telah menjadi pusat pelestarian pusaka yang aktif, dan memiliki banyak pusaka baik di Yogyakarta maupun daerah sekitarnya. Yogyakarta juga dianggap sebagai pusat kebudayaan, terkenal dengan batik tulis maupun cap, musik gamelan, wayang dan berbagai jenis kerajinan baik tradisional maupun kontemporer. Lebih jauh lagi, Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dikelilingi oleh banyak desa-desa yang memproduksi baragam kerajinan. Dengan melibatkan sekolah-sekolah di wilayah kota dan desa, metode-metode pendidikan pusaka yang dapat digunakan dalam situasi yang berbeda dapat diidentifikasi.

Pengalaman dan bahan-bahan yang dikembangkan dalam proyek di Yogyakarta akan disebarluaskan ke daerah lain Indonesia, termasuk penyusunan buku Panduan Pendidikan Pusaka untuk guru dengan muatan pusaka masing-masing daerah.

INFO BUKU

Judul : Pendidikan Pusaka Indonesia
Penulis : Anastasia Melati dkk
Penerbit: Badan Pelestarian Pusaka Indonesia
Edisi: 2010
Halaman: 118 
Ukuran: 17.6 x 25 x 1. cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Bekas koleksi Pribadi
Harga: Rp. 50.000
Call No: 370/Mel/p

No comments:

Post a Comment